Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Heri Isnaini, S.S., M.Hum.

Artikel Umum

“Bahasa” Perempuan

Dipublikasikan pada : 3 Agustus 2014. Kategori : .

 

Perempuan, Feminin, dan Feminis

Feminisme menyatukan berbagai gagasan yang memiliki persamaan dalam tiga pandangan utamanya: pertama, gender adalah konstruksi sosial yang lebih menindas perempuan daripada laki-laki; kedua, konstruksi ini dibentuk oleh patriarki; ketiga, pengetahuan eksperensial perempuan adalah dasar bagi pembentukan masyarakat nonseksis di masa depan. Kemudian di tahun 1980-an, ada perubahan dalam feminisme. Pertama, kritik feminis menjadi jauh lebih ekletik, artinya mulai mengambil bahan daritemuan dan pendekatan dalam jenis-jenis kritik lainnya (marxisme, strukturalisme, linguistik, dsb). Kedua, fokusnya dialihkan dari menyerang versi laki-laki atas dunia menjadi penyelidikan ciri-ciri dunia dan sudut pandang perempuan serta merekonstruksi catatan pengalaman perempuan yang hilang atau ditekan. Ketiga, perhatian dialihkan pada kebutuhan untuk mengonstruksi kanon tulisan perempuan yang baru dengan cara menulis ulang sejarah novel dan puisi sedimikian rupa sehingga penulis perempuan diutamakan. Elaine Showalter, misalnya, mendeskripsikan perubahan di akhir 1970-an sebagai pergeseran perhatian dari “androteks” (tulisan laki-laki) ke “ginoteks” (tulisan perempuan). Studi tentang “ginoteks” dan tema-tema tentang identifikasi perempuan adalah “ginokritik”.

Toril Moi membedakan istilah perempuan (female), feminin (feminine), dan feminis (feminist). Istilah pertama “berhubungan dengan biologi”. Artinya, berhubungan dengan jenis kelamin (sex), tentu saja perempuan beropoisisi dengan laki-laki. Perempuan dalam konsep yang pertama lebih merupakan karakteristik “kodrati” yang tidak bisa ditawar atau dinegosiasikan sedemikian rupa karena merupakan hal yang bersifat “alamiah”. Istilah kedua didefinisikan sebagai “seperangkat karateristik yang didefinisikan secara kultural”. Feminin dan femininitas merupakan rangkaian karakteristik sosiokultural yang sering diasosiasikan sebagai konsep pelanggengan “kekuasaan” patriarkal yang notabene meletakkan laki-laki lebih superior daripada perempuan. Sedangkan, istilah yang ketiga adalah sebuah “posisi politis”. Posisi yang membantu perempuan menandingi superioritas laki-laki dalam sosiokultural masyarakat.

 

“Bahasa” Perempuan

Bahasa yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan dan bahasa yang digunakan oleh masyarakat secara luas adalah “bahasa” laki-laki. Bahasa yang “sama” ini, setidaknya akan menghasilkan sejarah yang sama pula. Hal ini tentu saja akan lebih memperkokoh “kekuasaan” laki-laki atas perempuan. Ketidakmampuan perempuan dalam menemukan bahasa mereka akan menyebabkan perempuan tidak bisa mengungkapkan diri mereka secara utuh dan akhirnya jatuh kembali ke sistem bahasa laki-laki. Irigaray menguraikan pengaruh bahasa terhadap subjektivitas, terutama subjektivitas perempuan, sekaligus menegaskan bahasa harus berubah agar subjektivitas perempuan dapat dikenali di ranah budaya. Bahasa yang dikembangkan Irigaray adalah bahasa yang menandingi pola-pola oposisi biner dalam sistem patriarkal, yaitu logosentrisme dan palosentrisme yang berkolusi dalam menghambat dan membungkam perempuan. Bahasa yang khas perempuan seharusnya bahasa yang mendasarkan pada pengalaman perempuan dan tubuh perempuan. Tantangannya adalah membentuk ulang hubungan yang secara seksual ekspresif dan kuat antarbahasa, bentuk literer, dan jiwa laki-laki dan peempuan dengan mempertanyakan hubungan antara identitas gender dan bahasa. Para kritikus Prancis mengadopsi istilah ecriture feminine (tulisan feminin) untuk menjelaskan gaya feminin (yang tersedia baik bagi laki-laki maupun perempuan). Mereka menemukan “gaya” ini dalam ketidakhadiran, keterputusasaan, dan jouissance dalam tulisan modernis.

 

“Tulisan” perempuan

Nilai-nilai femininitas dipaksakan kepada kaum perempuan oleh sistem patriarkal yang bersifat hierarki dan bersentuhan dengan oposisi biner (laki-laki X perempuan, rasional X irasional). Menurut Cixous sistem patriarkal mendefinisikan femininitas sebagai lack, negativity, absence of meaning, irrationality, chaos, darkness atau singkatnya sebagai non-Being. Kaum perempuan kemudian dipaksa untuk menerima bahwa nilai-nilai femininitas ini merupakan esensi dari perempuan. Hal ini tentu saja menyebabkan kaum perempuan yang secara biologis adalah perempuan berada pada posisi yang terpinggirkan dan termarjinalkan yang pada akhirnya dibisukan. Oleh sebab itu Cixous kemudian mencoba untuk merombak ideologi logosentris yang memaksakan femininitas tadi dengan menyatakan bahwa perempuan adalah sumber kehidupan dan menyuarakan sebuah bahasa baru, bahasa feminis. Cixous berpendapat bahwa bahasa feminis yang dimaksud adalah bahasa yang mendekonstruksi wilayah metafisika patriarkal (kepercayaan pada makna yang melekat dan ada pada tanda). Untuk membebaskan perempuan dari “keterpinggirannya” perlu adanya écriture féminine (tulisan perempuan) dengan asumsi bahwa tulisan merupakan wahana “perlawanan” terhadap dominasi laki-laki. Cixous, secara khusus berpendapat bahwa ecriture feminine dapat ditemukan dalam metafora-metafora mengenai perbedaan genital dan libidinal perempuan.

 

Bandung, 28 Januari 2014