Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Heri Isnaini, S.S., M.Hum.

Artikel Umum

Kepopuleran Sastra Populer Pembahasan Novel Boenga Roos dari Tjikembang (1927) Karya Kwee Tek Hoay

Dipublikasikan pada : 3 Agustus 2014. Kategori : .

 

Pada dekade 1920-an, semua bacaan yang beredar di masyarakat harus dibawah naungan Balai Pustaka sebagai satu-satunya penerbit yang mempunyai hak menerbitkan dan mengedarkan bahan bacaan masyarakat. Balai Pustaka mempunyai prioritas dalam penerbitan pada masa pemerintahan kolonial selalu menganggap semua bacaan yang terbit di luar Balai Pustaka adalah bacaan liar dan dicap sebagai roman picisan. Oleh karena bacaan-bacaan tersebut tidak mementingkan asas mendidik dalam bersastra. “Mendidik” dalam pengertian pemerintah waktu itu tentu saja berkaitan dengan rencana pengembangan dan pemantapan kekuasaan. Paradigma ini berlangsung lama sehingga karya-karya seperti karya pengarang keturunan Tionghoa tidak dapat dengan “nyaman” beredar dan dinikmati dengan bebas. Pembedaan bacaan liar atau roman picisan dengan karya-karya yang diterbitkan oleh Balai Pustaka adalah sebagian dari imbas industrialisasi penerbitan dan politik etis dari pemerintah kolonial untuk “kemelekhurufan”. Sehingga, masyarakat memerlukan bacaan untuk memenuhi keinginannya membaca, sehingga menjamurlah penerbitan-penerbitan yang sanggup memproduksi bacaan dengan jumlah massal, seperti di Medan, misalnya.

Sejumlah pengamat sastra kemudian mencoba untuk menjelaskan gejala ini dari segi estetik. Perkembangan sastra populer sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan populer itu begitu pesat sehingga banyak pihak yang merasa berkepentingan untuk menyampaikan pandangannya, sambil mengaitkannya dengan moral, agama, “budaya adiluhung”, dan berbagai atribut lain yang berurusan dengan kehidupan manusia “berbudaya”. Perdebatan mengenai roman picisan ini berlangsung beberapa bulan lamanya di bebagai penerbitan di beberapa kota. Ini menunjukkan antara lain bahwa masalah itu sudah meluas dan mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari berbagai kalangan masyarakat, tidak hanya merupakan masalah antara kota dan desa saja, atau antara sastra dan bukan sastra. Perdebatan itu juga menunjukkan bahwa semua kalangan merasa memiliki kebebasan untuk menyatakan pendapatnya dalam soal kesusastraan dalam kaitannya dengan masyarakat, tanpa ragu-ragu. Pada akhirnya, perdebatan ini tidak akan terlepas dari pembaca yang memandang sebuah karya tersebut. Adakalanya, karya yang disebut roman picisan memang menjadi populer dalam arti yang sebenarnya. Kepopuleran karya tersebut berkaitan erat dengan budaya populer yang melahirkannya dan kebudayaan populer tidak bisa dipisahkan dari media; bahkan kita akan mengalami kesulitan untuk menentukan apakah media yang melahirkan kebudayaan populer atau sebaliknya. Media dan kebudayaan populer adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Bagi sebagian ahli pembedaan “kebudayaan populer” dengan “kebudayaan adiluhung” didasarkan pada pandangan piramidal yang menggolongkan masyarakat menjadi masyarakat menjadi kelas-kelas. Atas, menengah, dan bawah. Penggolongan kelas-kelas inilah yang memunculkan istilah kebudayaan populer karena kelas bawah merupakan kelas yang paling banyak penganutnya.

Boenga Roos dari Tjikembang adalah salah satu novel Kwee Tek Hoay yang populer. Begitu populernya novel ini sehingga termasuk karya sastra Melayu Tionghoa yang paling banyak dicetak ulang. Di samping sebagai novel, cerita ini juga dipentaskan, bahkan dua kali difilmkan, yaitu pada tahun 1931 dan 1976. Pada tahun 2000, mahasiswa UI mementaskan drama ini di Pusat Kebudayaan Belanda dan pada 11 Februari 2001, drama ini juga dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta atas prakarsa Yayasan Tridarma. Artinya, secara intensitas pencetakan ulang dan dari begitu seringnya novel ini dipentaskan, sepertinya tidak berlebihan kalau kita mengatakan bahwa novel ini populer dalam arti yang sangat luas. Kepopuleran novel ini sangat mungkin bergantung dari banyaknya pembaca dan apresitornya.

Salah satu unsur penunjang terkenalnya (baca: populer) novel ini adalah karena unsur realis-nya. Novel ini merupakan salah satu novel realis. Novel ini menceritakan keluarga Tionghoa kaya-raya yang tidak terlepas dari masalah-masalah: uang, cinta, wanita, dan kedudukan. Inilah ciri realis yang sangat kentara pada karya sastra yang masuk pada aliran realis. Sebelum kita membicarakan lebih jauh perihal adanya unsur “realis” pada novel Boenga Roos dari Tjikembang alangkah lebih baik kita sejenak mengetahui juga latar belakang pengarangnya. Kwee Tek Hoay (31 Juli 1886 – 4 Juli 1952), penulis terkemuka yang dilahirkan di Bogor, namanya dikenal di dunia internasional sebagai redaktur pelbagai media massa, seperti Panorama, Moestika Romans, dan Moestika Dharma. Ia banyak menulis karya sastra, kehidupan sosial, dan agama masyarakat Tionghoa peranakan. Karyanya yang terkenal di antaranya adalah Drama di Boven Digoel, Boenga Roos dari Tjikembang, Atsal Moelahnja Timboel Pergerakan Tionghoa jang Modern di Indonesia, dan Drama dari Krakatau. Selain sastrawan dan jurnalis, dia juga dikenal pula sebagai penulis masalah-masalah politik dan agama yang handal. Jumlah keseluruhan karyanya mencapai lebih dari 200 buah, termasuk naskah drama dan terjemahan dari bahasa Inggris dan Belanda.

Boenga Roos dari Tjikembang pertama kali diterbitkan oleh Drukkerij Hoa Siang In Kok, Batavia, 1927. Ceritanya adalah tentang seorang pemuda Tionghoa, Ay Tjeng, yang harus berpisah dengan Marsiti, “nyai” yang telah “dipiaranya” selama tiga tahun.Meski sangat mencintai dan menyayangi Marsiti, Ay Tjeng harus taat pada permintaan orang tua yang ingin menjodohkannya dengan Gwat Nio, putri seorang mitra bisnis mereka. Pernikahan Ay Tjeng dan Gwat Nio bahagia. Mereka dikaruniai seorang putri yang cantik. Selama masa itu, Ay Tjeng berhasil melupakan Marsiti. Kenangan terhadap kisah romantika masa lalunya muncul kembali ketika putrinya, Lily, meninggal dunia menjelang hari pernikahannya. Pada suatu hari calon suami Lily, Bian Koen, yang sedang bersedih pergi ke makam Lily. Di sana ia secara tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis yang sangat mirip dengan Lily. Gadis itu ternyata Roosmina, putri Marsiti. Ternyata, ketika dulu meninggalkan Ay Tjeng, Marsiti tengah hamil. Akhir cerita ini tentu dapat diterka, Bian Koen menikahi Roosmina, yang mirip dan secantik Lily, sehingga Ay Tjeng dan keluarganya pun turut bahagia.

Penggambaran cerita ini adalah “Dunia peranakan”, dunia kaum peranakan Tionghoa sebelum Perang Dunia II yang sarat dengan ajaran moral dan peringatan-peringatan terutama yang ditujukan kepada kaum wanita. Peringatan ini antara lain agar menaati ajaran Konfusius yang mengharuskan para gadis mematuhi orang tuanya, para wanita yang sudah menikah mematuhi suaminya, dan para janda harus mematuhi putranya. Ajaran yang sangat kental tersebut menandakan adanya unsur realis pada cerita tersebut. Salah satu yang harus kita ketahui bahwa suatu karya mengandung unsur realis adalah kalau pengarangnya betul-betul mengetahui persoalan dan cara menggambarkannya. Unsur realis yang paling penting adalah menghadapi jaman dan masyarakat sendiri secara objektif “apa adanya” tidak berlebih-lebihan. Gaya realis adalah jelas dan singkat. Tidak ada perkataan yang mengharukan seperti umumnya terdapat pada kaum romantik yang seringkali dihadapkan pada kejadian yang tiba-tiba dan berlebih-lebihan. Hal ini terlihat pada naskah drama Boenga Roos dari Tjikembang karya Kwee Tek Hoay.

Hal pertama yang akan kita lihat adalah pada tataran latar yang tergambar pada novel tersebut. Kwee Tek Hoay menggambarkan latar tempat dengan begitu apik dan deskripsi yang disajikannya begitu “nyata”.

Dalam bulan Januari antero tanah-tanah pegunungan di Preanger jadi basah tersirem oleh ujan yang turun satiap hari. Semua tumbu-tumbuan jadi kaliatan seger dan montok, sedeng aer dari sungai-suangai yang biasanya begitu jernih sekarang jadi butek lantaran lumpur yang turun dari gunung terbaawa aer ujan yang sebentar-sebentar membikin timbulnya banjir. Hawa udara pun jadi lebih sejuk dari biasa, sedeng jalanan-jalanan kecil di desa-desaada penu dengan lumpur dan jadi lebi licin hingga membikin susa pada orang-orang yang bepergian. Tapi maski begitu paman-paman tani musti bekerja giat, aken macul itu tanah-tanah yang sudah jadi lembek lantaran ujan, sebar bibit di kebon-kebon yang sekarang bisa jadi tumbuh dengan cepat sekali, sedeng di sawa-sawa, yang tida kekurangan aer, orang tani mulai tandur dengan gumbirah.

 

Dari uraian tersebut, tidak dapat disangsikan lagi bahwa Kwee Tek Hoay betul-betul mengetahui persoalan dan dia sangat fasih bagaimana cara menggambarkannya. Kwee Tek Hoay ingin memberikan “informasi” mengenai latar tempat, waktu, dan suasana seperti yang tergambar pada petikan di atas. Semua yang tergambar pada memang sesuatu yang betul-betul realistis sesuai kenyataan tidak dilebih-lebihkan dan tidak pula dikurangi pas menurut porsi yang sesuai dengan jamannya.

Satiap minuut itu pemandangan jadi beroba. Jam lima saperampat separo dari gunung Gedeh terpalut oleh warna emas. Satenga jam komudian cumah tinggal bebrapa puncaknya yang paling tinggi masi tertojo oleh itu sinar yang mulia, sedeng bagian seblah bawah tertutup oleh kagelapan, dari mana ada berbangkit satu kumpulan halimun yang pada saban minuut jadi semingkin tebel. Itu sinar kuning emas pun telah beroba manjadi dadu-semu emas sedeng langit di sablah kulon yang tadinya berwarna kuning dadu dan merah muda telah bersalin jadi sebagi sinar api dan darah kutika matahari semingkin turun ka bawah di antara gunng Salak dan Perbakti

 

Seperti juga pada kutipan sebelumnya, kutipan di atas juga memperlihatkan “kesanggupannya” menghadirkan gambaran latar tempat terjadinya cerita. Begitu detilnya, sehingga pembaca dapat membayangkan gambaran “tempat” pada masa itu, yaitu gambaran mengenai tempat terjadinya cerita, suasana, dan waktu. Semua itu kenyataan yang diketahui pengarang dengan positif. Artinya, keadaan yang tergambar betul-betul seperti yang terjadi pada masanya tidak berkurang ataupun ditambah dengan berlebihan. Gambaran-gambaran yang “nyata” seperti ini harus “dinyatakan lagi” dalam pertunjukan apabila naskah ini akan dipentaskan. Sebuah pertunjukan yang mengusung realisme mau tidak mau harus “setia” mengikuti seperti yang tertera pada naskahnya.

Selain dari tataran latar, bahwa novel tersebut adalah novel yang realis dapat juga terlihat dari persoalan-persoalan yang terjadi pada cerita di dalamnya. Kita ketahui persoalan yang sangat realistik pada novel tersebut adalah persoalan “uang”. Uang-lah yang membuat Ay Tjeng kehilangan Marsiti, nyai yang sangat dicintainya, sehingga dia “rela” meninggalkan Marsiti hanya karena ingin “mematuhi” orang tuanya yang menjodohkannya dengan Gwat Nio demi kekayaan. Kwee Tek Hoay membuat dunia seperti yang “sewajarnya”. Kita tidak bisa memungkiri bahwa memang “uang” telah membuat orang lupa akan segalanya, lupa akan akal sehatnya. Dan itu sangat realistis. Sesuai dengan kenyataan yang memang terjadi pada jaman itu. Semua itu kenyataan yang diketahui pengarang dengan positif bahwa dunia memang dikuasai uang. Akan tetapi suatu kenyataan pula bahwa dunia bukan diisi oleh “sesuatu” yang jahat saja, melainkan “sesuatu” yang baik juga seperti yang disadari oleh pengarang. Dengan demikian, dapat kita sebutkan bahwa novel ini memberikan unsur realis yang kental.

Selain dari unsur realis yang kental dalam cerita ini terdapat pula beberapa situasi yang menunjukkan membaurnya kebudayaan Peranakan Tionghoa, Pribumi, dan Eropa. Ketika Lily masih remaja, misalnya, orang tuanya memanggil peramal Tionghoa untuk mengetahui masa depan anaknya. Sebaliknya, ketika Lily jatuh sakit, orang tuanya justru malah memanggil seorang dokter Eropa. Namun, ketika Bian Koen sakit yang dijadikan perantara untuk kesembuhannya adalah seorang dukun pribumi. Gwat Nio, istri sah Ay Tjeng, bahkan sebenarnya anak seorang nyai. Dia diambil oleh orangtua angkatnya karena mereka tidak dikaruniai anak. Pembauran kebudayaan ini merupakan unsur realis juga. Hal ini menggambarkan situasi dan keadaan pada jaman itu mengenai pengaruh masyarakat peranakan Tionghoa yang hidup di antara kebudayaan Eropa dan pribumi. Hal ini terlihat pada adegan perpisahan Ay Tjeng dan Marsiti.

Ay Tjeng semingkin sedih hingga dirasaken hatinya ampir meledak, ma ia coba bikin gumbira dengan bersuit lagu Tipperary, Star Spangled Banner, dan laen-laen lagu kagirangan, tapi semua gagal…. Ay Tjeng lalu menyanyi dengan suara alus dan perlahan satu lagu Sunda yang sedih, dengan ini sairan: Susukan jalan cileuncang, Dipengkong make kamalir, Isukan kuring dek leumpang, Pageto ngan bati watir…

Kutipan tersebut adalah salah satu contoh pembauran antara tiga kebudayaan yang bercampur, pengarang berhasil menggambarkan kenyataan-kenyataan di tengah-tengah masyarakat menjadi sesuatu yang memang patut diketahui oleh pembaca. Tidak ditutup-tutupi dan tidak dilebih-lebihkan. Apa adanya saja.

Dengan demikian, dapat sedikit direfleksikan bahwa kepopuleran novel populer ini adalah banyaknya para pembaca yang mengundang banyaknya apresiator. Apresiator tentu saja berpijak pada keefektifan novel sebagai bagian dari unsur realis masyarakat. Tidak ditutup-tutupi dan tidak dilebih-lebihkan. Apa adanya saja.

 

Bandung, 30 Januari 2014