Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Heri Isnaini, S.S., M.Hum.

Artikel Umum

Me-review Tanda Budaya

Dipublikasikan pada : 3 Agustus 2014. Kategori : .

1

Media Budaya yang berkembang begitu pesat dewasa ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia. Media-media budaya seperti: televisi, handphone, film, internet, komputer, surat kabar, majalah, dan lain-lain merupakan media budaya yang mempengaruhi sikap dan sifat para penggunanya, sebut saja misalnya handphone. Penggunaan handphone atau telepon genggam ini sudah sangat berkembang, mulai di daerah perkotaan sampai ke pelosok-pelosok desa, anak-anak sampai orang tua sekarang sudah “terbiasa” menggunakan telepon genggam, walaupun kita sendiri menyadari kebanyakan penggunaan telepon genggam hanya untuk memberikan kesan modern dan menumbuhkan sikap individualistis bagi masyarakat pengguna. Selain mempengaruhi sikap-sikap tersebut, media budaya dapat pula mempengaruhi:

a)      Sifat individu penguna yang konsumtif

b)      Sifat hedonisme

c)      Sifat individualisme

Media-media budaya seperti disebutkan di atas pada dasarnya telah mengubah sifat penggunanya menjadi lebih konsumtif. Misalnya, penggunaan handphone mau tidak mau si pengguna harus mengisi dengan pulsa dan harus men-charge baterai handphone tersebut dan itu jelas merupakan sifat konsumtif, apalagi kalau kita lihat dalam penggunaan internet, film, dan televisi, semuanya membuat sifat masyarakat menjadi lebih konsumtif.

Sifat hedonisme muncul sebagai akibat dari pengaruh media budaya, seperti televisi dan internet, Hedonisme adalah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Sifat hedonisme muncul seiring dengan maraknya iklan-iklan televisi, internet, majalah, dan surat kabar. Iklan-iklan tersebut selain membuat dan menumbuhkan sifat konsumtif juga menumbuhkan sifat hedonisme, karena bagaimanapun pengaruh iklan yang menjanjikan kesenangan dan kenikmatan materi adalah pemicu utama munculnya sifat hedonisme itu.

Selain pengaruh media yang berakibat pada munculnya sifat konsumtif dan hedonisme, media budaya juga mengakibatkan sifat individualisme pada masyarakat. Sebagai contoh misalnya, seseorang yang gemar makan di restoran cepat saji, secara tidak langsung dia ingin menyatakan kepada orang lain bahwa dia adalah orang yang modern. Contoh yang lain misalnya, seseorang yang selalu memakai pakaian dengan merk yang terkenal dan mahal, ketika dia mengenakan pakaian tersebut, sebetulnya dia sedang menunjukkan eksistensi dirinya sebagai orang yang modis atau orang yang mengerti mode dan sebagainya. Sifat-sifat yang ingin menunjukkan eksistensi diri akibat pengaruh dari media budaya yang konsumtif dan hedonisme biasanya akan menjadikan individu-individu yang indvidualis.

 

2

Setelah runtuhnya evolusi manusia yang dikemukakan oleh Darwin pada beberapa tahun belakangan ini. Orang mulai menyadari bahwa manusia bukan merupakan makhluk biologis hasil evolusi alamiah. Keberadaan manusia tidak terlepas dari kesadarannya untuk mempertahankan hidup dengan “budaya”. Kebudayaanlah yang dapat membedakan manusia dengan makhluk biologis lainnya. Sehingga dia menjadi makhluk yang dapat bertahan dan mengembangkan diri sampai akhirnya menjadi makhluk yang menguasai dunia. Jadi, dengan kesadaran dan keyakinannya bahwa manusia adalah makhluk budaya yang terus berkembang dari hasil proses panjang sejarah, maka sudah barang tentu apa yang dilakukan adalah warisan dari budaya yang telah ada. Manusia hanya “pengembang” kebudayaan dan menjadi pewaris yang wajib melestarikan dan membuat kebudayaan tersebut lebih maju ke arah yang lebih baik. Dengan demikian, manusia dilahirkan sebagai makhluk budaya merupakan hasil perkembangan historisyang penuh dengan perjuangan yang panjang, bukan semata-mata hasil dari evolusi yang alamiah.

3

Bahasa merupakan salah satu hasil kebudayaan manusia. Melalui bahasa manusia berkembang dan melestarikan keberadaannya di muka bumi, dengan bahasa pula manusia dapat berinteraksi dengan sesamanya. Begitu banyaknya bahasa yang beragam di dunia ini tetapi semua bahasa adalah produk dari budaya yang dihasilkan manusia. Contohnya, manusia senantiasa dapat berinteraksi dengan sesamanya melalui bahasa, (menyapa, mengobrol, bertanya, mengungkapkan kegembiraan, mengunkpkan kesedihan, dsb). Semuanya dapat diugkapkan melalui bahasa. Selain merupakan produk budaya, bahasa juga dapat menjadi pola-pola budaya itu sendiri. Di masyarakat Jawa dan Sunda, penggunaan bahasa ada beberapa tingkatan, tingkatan-tingkatan dalam berbahasa inilah yang membentuk pola-pola budaya.

Praktik komunikasi antarwarga masyarakat budaya sudah jelas akan menghasilkan pola-pola budaya tertentu. Misalnya, ketika orang berkomunikasi dengan orang yang lebih tua/dihormati maka komunikasi yang dilakukan akan sedikit formal, santun, tidak ceplas-ceplos, dan sebagainya. Berbeda halnya dengan praktik komunikasi yang dilakukan seseorang dengan teman dekatnya, mungkin pola budaya yang akan muncul adalah: situasi keakraban, penuh candaan, dan sebagainya.

Hal yang berkaitan pula dengan pola-pola budaya adalah tindakan sosial. Ketika seorang dari suatu budaya masyarakat melakukan sebuah tindakan sosial berarti dia telah menunjukkan pola budayanya. Misalnya, ketika ada seseorang yang sedang berjalan lalu berpapasan dengan orang yang lebih tua, maka tindakan “mengangguk” atau “tersenyum” atau “menyapa” adalah sebuah tindakan yang berar dia telah membuat pola budayanya sendiri. Begitupun dengan contoh yang lain, misalnya berjabat tangan dengan seseorang ketika bertemu adalah tindkan sosial pada masyarakat budaya tetentu yang mencerminkan pola budaya tertentu pula.

Pembentukan pola pikir juga berkaitan dengan pola-pola budaya. Misalnya, pola pikir masyarakat Sunda yang cenderung mengalah, kurang semangat, tidak merantau, dan pundungan adalah kecenderungan pola pikir yang ditanamkan pada masyarakat sejak lama sehingga pola pikir tersebut menjadi pola budaya, sehingga kita tidak akan heran ketika ada yang mengatakan orang Sunda, pasti yang muncul adalah pola pikir: mengalah, tidak mungkin merantau, kurang semangat, dan pundungan. Begitupun dengan pola pikir-pola pikir pada masyarakat budaya yang lain, misalnya pada masyarakat Padang, Batak, Jawa,dan sebagainya pola pikir pada masyarakat tersebut juga akan berkaitan dan bahkan membentuk pola budayanya.

4

Mengkaji suatu kebudayaan tertentu pasti tidak akan telepas dari peran strukturalisme, pragmatik, dan semiotik. Jadi dengan kata lain, ada sumbangan yang diberikan oleh strukturalisme, pragmatik, maupun semiotik dalam kajian budaya. Srukturalisme adalah paham yang menyatakan bahwa segala hal tidak dapat dipahami secara terpisah dari hal lain, melainkan harus dilihat dalam konteks struktur yang lebih besar. Paham strukturalisme bermula di Perancis pada tahun 1950-an dan pertama kali muncul dalam karya antropolog Clade Levi Strauss dan Roland Bhartes. Jadi, dengan kata lain pengkajian budaya harus dilihat sebagai satu struktur besar yang komprehensif dan tidak secara parsial. Misalnya, ketika kita mengkaji budaya Sunda, maka budaya Sunda tersebut harus dilihat secara menyeluruh dalam konteks yang utuh tidak terpisah. Artinya budaya Sunda secara keseluruhan bukan sebagian atau terpisah-pisah.

Pragmatik melihat syarat-syarat suatu hal sebagai sebuah keserasian dan hal tersebut mempunyai “keuntungan” tersendiri. Di bidang Linguistik pragmatik diartikan berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi. Penelitian kajian budaya juga tidak bisa terlepas dari pragmatik karena bagaimanapun peran pragmatik tidak bisa dihindari. Contohnya, ketika kita mengkaji bahasa suatu daerah yang mempunyai tingkatan-tingkatan –seperti di masyarakat Sunda- maka peran pragmatik dapat membantu kajian budaya tersebut.

Selain strukturalisme dan pragmatik yang mempunyai peran penting dalam kajian budaya, semiotik pun berpengaruh karena semiotika adalah ilmu yang mempelajari tanda-tanda. Dalam mengkaji suatu budaya, sistem tanda tidak dapat dipisahkan. Contoh yang paling sederhana adalah penggunaan media “warna” di setiap daerah dengan kebudayaan berbeda tentu akan juga mempunyai perbedaan dalam penginterpretasiannya. Untuk orang yang meninggal dunia untuk sebagian masyarakat menggunakan bendera kuning, mungkin hal tersebut tidak berlaku untuk daerah yang lain. Begitupun tanda-tanda yang lain yang terangkum dalam sistem semiotika. Dengan demikian, strukturalisme, pragmatik, dan semiotika mempunyai peran yang tidak sepele dalam pengkajian budaya.

5

Kecenderungan ragam budaya masyarakat Indonesia adalah:

a)      Budaya kontak tinggi

b)      Bersifat kolektivistik

c)      Indeks kesenjangan kekuasaan tinggi

Budaya masyarakat dengan budaya kontak yang tinggi adalah budaya masyarakat yang menggunakan kontak fisik sebagai bentuk penyampaian informasi yang implisit. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat dengan budaya kontak tinggi karena memang selalu “mementingkan” kontak fisik untuk menyampaikan perasaan.Seperti berjabat tangan, berpelukan, cipika-cipiki (semua menandakan keakraban dan rasa senang ketika bertemu dengan orang yang dianggap sudah dekat). Bahasa yang digunakan biasanya lebih dominan dengan bahasa nonverbal. Hal ini disebabkan pada masyarakat dengan budaya kontak tinggi, kata-kata “diabaikan” karena sudah terwakili oleh kontak fisik yang lebih mewakili perasaan yang ingin disampaikan. Bahasa nonverbal dapat berupa isyarat-isyarat kontekstual untuk menghemat berkata-kata. Komunikator ingin komunikasi dapat dipahami oleh komunikan dengan bahasa nonverbal.

Selain budaya kontak tinggi, masyarakat Indonesia juga bersifat kolektivistik. Artinya, jiwa kebersamaan dan gotong royongnya sangat tinggi. Sangat bergantung dengan orang-orang sekitarnya. Misalnya, di masyarakat kita sangat lumrah ketika membantu tetangga yang sedang membangun rumah, mengadakan resepsi, dan sebagainya. Jiwa kebersamaannya sangat tinggi, sehingga tidak salah dalam masyarakat kita ada ungkapan mangan ora mangan asal kumpul, ungkapan ini menandakan sifat masyarakat yang kolektif. Pada masyarakat dengan sifat kolektivistik bahsa yang digunakan lebih cenderung bahasa verbal. Hal ini disebabkan ketika orang berkumpul dengan jumlah yang banyak maka yang akan muncul adalah “ngobrol” atau “menggosip” sehingga sudah jelaslah bahwa bahasa yang dominan adalah bahasa verbal.

Indeks kesenjangan kekuasaan (IKK) yang tinggi adalah kekuasaan dan pengaruh terpusat hanya pada satu orang atau sedikit orang. Indonesia meupakan negara dengan IKK yang tinggi karena memang di negara Indonesia kekuasaan dan pengaruh terhadap kekuasaan tersebut hanya terpusat pada sedikit orang. Hal ini mungkin sedikit dapat “maklumi” karena kita sudah mengalami begitu lamanya terjajah sehingga IKK kita selalu tinggi.

 

Bandung, 31 Januari 2014