Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Heri Isnaini, S.S., M.Hum.

Artikel Umum

Membandingkan Sajak “Ode to the West Wind” Karya Percy Bysshe Shelley (Terjemahan Taslim Ali) dan Sajak “Kepada Angin Raja Kelana” KaryaTaslim Ali

Dipublikasikan pada : 3 Agustus 2014. Kategori : .

 

Sajak “Ode to the West Wind” Karya Percy Bysshe Shelley adalah sajak dengan ciri romantik yang kental. Pada sajak tersebut ditemukan banyak sekali metafor mengenai alam dan perlambangannya yang disajikan dengan begitu imajinatif, misalnya dengan kata angin. Perlambangan angin pada sajak tersebut menunjukkan ciri keromantisan yang begitu dalam karena angin digambarkan sebagai sosok kekuatan yang sangat dahsyat bahkan mahadahsyat. “Shelley menaruh begitu besar perhatiannya pada alam dan unsur-unsur yang ada di alam (seperti halnya angin). Sehingga, alam baginya adalah sebuah “pakaian” yang dikenakan begitu abadi dan merupakan perwujudan yang mewakili segala yang ada dalam diri manusia dan segala keindahan ilahiah yang tidak kasat mata” (Damono, 2009:71).

Sajak karya Shelley ini diterjemahkan oleh Taslim Ali dengan judul “Kepada Angin Barat”. Ada banyak kesamaan antara sajak yang dia terjemahkan dengan sajak aslinya serta sajak yang dia buat sendiri. Kesamaan yang paling terlihat adalah dari bentuk, bait, dan jumlah larik yang tercantum pada ketiga sajak tersebut (“Ode to the West Wind” Karya Percy Bysshe Shelley; “Kepada Angin Barat” terjemahan Taslim Ali; dan “Kepada Angin Raja Kelana” karya Taslim Ali). Secara tersirat pun unsur tema dan amanat sangat mirip dan semuanya pun dibangun berdasarkan imaji, metafor, dan lambang yang sama. Angin melambangkan semangat yang berfungsi sebagai perusak sekaligus pencipta kehidupan. (Damono, 2009:71). Selanjutnya, yang akan lebih difokuskan pada pembahasan ini adalah perbandingan terjemahan sajak Shelley, “Kepada Angin Barat” dan sajak “Kepada Angin Raja Kelana”.

Dilihat dari segi bentuknya, sajak “Kepada Angin Barat” dan sajak “Kepada Angin Raja Kelana” mempunyai kesamaan. Kedua sajak tersebut terdiri atas lima bagian. Masing-masing bagian terdiri atas empat bait berupa soneta (14 larik). Persamaan bentuk ini akibat dari pengaruh romantisisme Inggris yang “dibawa”oleh Shelley yang juga berpengaruh pada Taslim Ali. Pengaruh tersebut membuat sajak terjemahan Taslim Ali menjadi sangat “patuh” pada sajak aslinya. Sehingga, “kepatuhan” tersebut menjadi “pengaruh” tersendiri bagi sajak yang ditulisnya. Selain dari segi bentuk, sajak “Kepada Angin Barat” dan sajak “Kepada Angin Raja Kelana” mempunyai kesamaan tema dan amanat. Kedua sajak itu membicarakan “angin” sebagai kekuatan alam yang sangat besar. Sehingga angin dapat berubah menjadi “teman” yang setia atau menjadi “musuh” yang nyata. Berikut adalah penjelasan kedua sajak tersebut dilihat dari bagian-bagiannya.

 

Bagian 1

“Kepada Angin Barat”

Angin digambarkan sebagai sebuah kekuatan yang bisa “membunuh” sekaligus “menghidupkan”, “memorak-porandakan” sekaligus juga “menumbuhkan”. Angin digambarkan sebagai sosok semangat musim gugur yang mengembara dengan semangat ke seluruh pelosok dunia.

 

“Kepada Angin Raja Kelana”

Angin digambarkan sebagai Raja Kelana, seorang “raja pengembara” dengan semangat yang tidak pernah pudar. Berhembus kesana kemari menghembuskan “napas” kehidupan, membawa “wangi” ucapan terima kasih kepada siapa saja yang menyerunya.

 

Perbedaan yang mendasar dari bagian 1 pada kedua sajak di atas adalah perlambangan angin yang digambarkan berbeda. Pada sajak yang pertama, angin adalah sosok kekuatan yang mengembara dengan semangat yang membara, sedangkan pada sajak kedua, Taslim Ali menggambarkan angin sebagai sosok manusia “Raja” yang berkelana dengan semangat yang tidak pernah lekang dan menebarkan “wewangian” (kebaikan) bagi siapa saja yang menyerunya.

 

Bagian 2

“Kepada Angin Barat”

Angin digambarkan sebagai sebuah kekuatan yang tidak bisa dibayangkan kedahsyatannya. /Di atas arusmu, di tengah kacau langit curam/; /Gemawan berterbangan bagai daunan di tanah/; /Dan air dahan laut dan langit bergetar, kauderam/.

“Kepada Angin Raja Kelana”

Angin digambarkan sebagai sesuatu yang tidak bisa diprediksi. Terkadang di hari yang sangat baik pun dengan kekuatan angin bisa tiba-tiba berubah menjadi hari yang tidak menyenangkan. /Kau kacau suaramu berteman tegar/; /menderum bertempik, mengejutkan hati/; /Dan mengguncang iman segala pendengar/; /Dengan kekuatanmu yang tak berperi/; /Raksasa-raksasa di rimba raya; /kautumbangkan, sambil terbang pergi/.

 

Kedua sajak tersebut hampir sama. Keduanya menjelaskan kekuatan angin yang sangat dahsyat, tidak terperikan. Kekuatannya sampai mampu membuat apa saja yang dilaluinya harus “tunduk” dan “takluk”.

 

Bagian 3

“Kepada Angin Barat”

Pada bagian ketiga ini, kekuatan angin digambarkan menghempas Lautan Tengah yang biru, meluluhkan Teluk Baiea, dan menyibakkan Atlantika. Begitu dahsyatnya kekuatan angin tersebut. /Jurang bagi jalanmu, sedangkan jauh di bawah:/; /Kembang-kembang laut dan hutan berlumpur, yang tiada/; /bergetah daun lautnya, mengenal dikau dari suara,/; /Lalu tiba-tiba mengelabu kerna takutnya,/; /Gemetar, dan tak sadar bemerkahan, o dengarlah!/

 

“Kepada Angin Raja Kelana”

            Kekuasaan angin yang digambarkan seorang “Raja” sangatlah hebat, walaupun membinasakan tetapi dapat menumbuhkan kehidupan yang baru. /Segala makhluk yang mengutukimu/; /Karena ganasmu sekarang, nanti/; /Akan mencintaimu seperti dulu/.

 

Perbedaan pada bagian ketiga ini adalah angin yang digambarkan sebagai kekuatan yang mahadahsyat, menghancurkan sekaligus dapat menumbuhkan. Pada sajak pertama angin menjadi apa adanya angin, sangat berbeda dengan sajak yang kedua karena angin diibaratkan sebagai manusia “Raja” yang harus menghancurkan “sesuatu” karena memang kehancuran sesuatu tersebut diperlukan untuk keadaan yang lebih baik.

 

Bagian 4

“Kepada Angin Barat”

/Andaikan aku daunan mati, bolehlah kaubawa;/; /Andai awan terburu, ikut melayang sertamu;/; /Jika ombak, jerih daku di bawah tekanmu dan serta/. Pada bagian ini ada semacam “kepasrahan” dari “aku” yang menyatakan penyerahan segenap jiwa kepada angin yang juga dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya bahwa angin memiliki kekuatan yang dahsyat.

 

“Kepada Angin Raja Kelana”

/Semangat yang tercinta dan ditakuti/; /Yang tak berhenti mengembara/; /Yang membinasakan dan memperbaharui/. Dalam pengembaraannya “sang raja” selalu dicinta sekaligus ditakuti, tetapi “sang raja” tetaplah mempunyai kekuatan yang besar.

 

Bagian 5

“Kepada Angin Barat”

/jadikan aku kecapimu, seperti hutan belantara:/; /Terompet suatu ramalan: O Angin, bila tiba/; /Musim dingin, mungkinkah kasib musim semi munculnya?/. Penegasan pada bagian sebelumnya, “aku” menginginkan angin menjadi bagian dari kahidupannya, menjadikan dirinyalebih berarti seperti halnya angin.

 

“Kepada Angin Raja Kelana”

Angin adalah “teman” dan “musuh”, dia mampu mengatur sesukanya dan memerintah gelombang hanya dengan tiupannya. Kekuasaannya tidak berbatas seperti seorang raja yang mempunyai tampuk kekuasaan yang mahahebat. /O Raja kelana/; /Yang memegang tampuk kekuasaan/; /Dari purbakala sampai zaman dewasa/; /Di laut bebas, di udara merdeka/.

 

Dari sedikit penjelasan terhadap kedua sajak di atas (sajak “Kepada Angin Barat” dan sajak “Kepada Angin Raja Kelana”) dapat ditemukan adanya pengaruh romantisisme Inggris pada sajak “Kepada Angin Raja Kelana”. Pengaruh tersebut dapat dilihat. Pertama, dari bentuk sajak yang digunakan. Bentuk yang digunakan dalam sajak tersebut adalah bentuk soneta (14 larik) dalam setiap bait. Bentuk soneta ini adalah bentuk yang menjadi “primadona” dalam kesusasteraan Eropa abad ke-14. Kedua, penggunaan metafor yang berhubungan dengan kekuatan alam, bahasa yang sangat mengagung-agungkan alam, serta suasana yang dibangun pada sajak tersebut sangat menggambarkan suasana alam. Sajak tersebut menggunakan personifikasi angin sebagai sosok “Raja Kelana” yang seolah nyata dan hidup seperti manusia yang juga mempunyai kekuasaan yang sangat besar.

Pengaruh-pengaruh romantisisme tersebut tidak terlepas dari pengaruh sajak “Ode to the West Wind” Karya Percy Bysshe Shelley yang diterjemahkan oleh Taslim Ali menjadi “Kepada Angin Barat”. Penerjemahan sajak tersebut sangat “patuh” pada sajak aslinya, “kepatuhan” tersebut sangat terlihat dari bentuk, tema, dan pemilihan diksi-diksinya. Unsur romantisisme pada sajak aslinya tidak dihilangkan pada sajak terjemahnnya. Sehingga, penggunaan perlambangan alam dan metafor-metafor alam sangat terasa. Hal tersebut semata-mata untuk mengungkapkan bahwa alam ini utuh dan semua yang ada merupakan bagian dari alam. Dengan demikian, pengaruh romantisisme pada sajak Taslim Ali (“Kepada Angin Raja Kelana”) tidak menghilang begitu saja bahkan berkembang menjadi jenis romantisisme yang baru. Romantisisime ala Taslim Ali.

 

Bandung, 27 Januari 2014