Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Heri Isnaini, S.S., M.Hum.

Artikel Umum

Menemui Sangkuriang di “dua dunia” berbeda

Dipublikasikan pada : 3 Agustus 2014. Kategori : .

 

Cerita Sangkuriang telah menjadi cerita yang paling dikenal masyarakat Sunda (Jawa Barat). Cerita ini adalah sebuah cerita yang selalu dihubung-hubungkan dengan asal mula Gunung Tangkuban Prahu dan Lembah Bandung. Cerita ini mempunyai beberapa versi yang berbeda karena sifatnya yang lisan.

Cerita Sangkuriang mengalami transformasi tidak hanya ke dalam bentuk sastra tulis, tetapi bertransformasi pula ke dalam bentuk drama dan film. Cerita rakyat Sangkuriang dapat dikatakan sebagai sebuah gambaran masyarakat Sunda yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan kesopanan serta penolakan mereka terhadap inses. Sebab, dalam beberapa versinya Sangkuriang ”gagal” menikahi Dayang Sumbi yang notabene adalah ibu kandungnya sendiri. Transformasi Cerita Sangkuriang dari tradisi lisan menjadi tradisi tulis/cetak, memiliki ”keunikan” tersendiri. Artinya, perbedaan ataupun persamaan antara keduanya sangat menarik untuk diteliti. Kita akan ”menemui” Sangkuriang dari versi lisan dengan Sangkuriang versi Utuy Tatang Sontani, Sang Kuriang, yang sudah jelas-jelas merupakan transformasi dari versi cerita lisannya.

Cerita versi lisan biasanya berawal dari seorang anak raja (pangeran) yang gemar berburu di hutan. Suatu hari ketika berburu di sebuah hutan tertutup atau hutan larangan, dia membuang air kecil. Seekor babi betina yang pada hakikatnya adalah seorang dewi yang dikutuk, meminum air tersebut yang tanpa sengaja tertampung pada tempurung kelapa. Babi betina tersebut kemudian mengandung dan melahirkan seorang bayi perempuan. Bayi tersebut kemudian ditemukan oleh anak raja, dibawa ke istana dan diangkat anak. Bayi tersebut diberi nama Dayang Sumbi.

Sesudah dewasa Dayang Sumbi memiliki kegemaran menenun. Pada suatu saat alat tenun yang digunakan Dayang Sumbi jatuh. Karena lelah, Dayang Sumbi meminta siapa pun yang sudi mengembalikan alat tenun itu akan dijadikan saudara bila perempuan dan akan dijadikan suami bila laki-laki. Seekor anjing peliharaan raja yang bernama si Tumang mengambilkan alat tenun tersebut. Si Tumang sebenarnya seorang dewa yang dikutuk menjadi anjing. Karena sudah terlanjur berjanji Dayang Sumbi menyerah pada takdir untuk menjadikan si Tumang sebagai suami. Tak lama Dayang Sumbi hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang dinamai Sangkuriang.

Setelah dewasa, Sangkuriang gemar berburu. Saat berburu biasanya dia ditemani si Tumang. Pada suatu saat, si Tumang disuruh mengejar seekor babi betina (sebenarnya ibu Dayang Sumbi). Si Tumang tidak menurut. Hal ini membangkitkan kemarahan Sangkuriang. Anjing itu dibunuh oleh Sangkuriang dan hatinya diambil lalu diserahkan kepada ibunya untuk dimasak.

Setelah mengetahui bahwa hati yang dimakan adalah hati si Tumang, Dayang Sumbi marah lalu memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi kemudian Sangkuriang diusir. Sepeninggal Sangkuriang, Dayang Sumbi merasakan kesepian dan mengasingkan diri di hutan memohon pada Dewata agar dipertemukan kembali dengan anaknya. Untuk mengusir sepi, Dayang Sumbi hampir setiap saat menenun.

Sangkuriang berkelana sampai akhirnya bertemu dengan Dayang Sumbi yang masih terlihat muda dan cantik. Sangkuriang jatuh hati dan mengajukan pinangan, tetapi Dayang Sumbi mengetahui bahwa laki-laki itu adalah anaknya karena melihat bekas luka di kepalanya. Untuk menghindari perkawinan, Dayang Sumbi menerima pinangan itu dengan syarat agar Sangkuriang menyiapkan telaga dan perahu untuk berlayar dalam tempo satu malam. Bila tidak dapat dipenuhi, perkawinan batal. Permintaan itu pun disanggupi Sangkuriang.

Sangkuriang dengan dibantu siluman menyiapkan telaga dan perahu. Ketika sadar bahwa pekerjaan Sangkurang akan selesai, Dayang Sumbi membuat tipu muslihat dengan menyuruh orang-orang untuk mengibar-kibarkan kain putih (boeh larang) agar seolah-olah fajar telah menyingsing. Karena marah keinginannya tidak sampai dan terwujud, Sangkuriang menendang perahu yang hampir selesai itu sampai tertelungkup.

Cerita Sangkuriang versi itulah yang berkembang di masyarakat. Sangkuriang digambarkan sebagai sosok laki-laki sakti mandaraguna, dia adalah pemipin para siluman, dia mampu membendung Sungai Citarum untuk dibuat telaga dan dia juga sanggup membuat perahu hanya dalam waktu semalam. Berbeda dengan penggambaran Sangkuriang versi Utuy Tatang Sontani, Sang Kuriang, Sangkuriang digambarkan sebagai seorang tokoh manusia yang mempunyai keteguhan dan prinsip yang kuat, dia tidak sakti, dia bukan pemimpin para siluman, dia hanya manusia yang sedang mencari kebenaran.

Perbedaan penggambaran tersebut merupakan “buah’ dari transformasi yang dilakukan Utuy Tatang Sontani pada drama yang ditulisnya. Utuy melihat bahwa dalam teks lisan, Sangkuriang menjadi tokoh antagonis yang selalu pada posisi salah (pada berbagai versi apapun cerita Sangkuriang). Pada naskah dramanya, Utuy mengubah citra Sangkuriang sebagai tokoh antagonis menjadi tokoh yang kuat, tokoh yang teguh, dan tokoh yang mempunyai prinsip. Sangkuriang berani melamar Dayang Sumbi karena ketidakyakinannya mengenai sosok Dayang Sumbi yang mengaku sebagai ibunya. Alasan ketidakyakinan Sangkuriang sangat berdasar, dia mengatakan bahwa kelahiran dirinya tidak disaksikan oleh orang lain. Sehingga, dia sangat patut “curiga” akan kebenaran cerita bahwa dia adalah anak Dayang Sumbi dan Bujang tunadaksa (Tumang). Keteguhan prinsip Sangkuriang versi Utuy ini dapat dilihat sampai akhir teks drama yang ditulisnya yaitu ketika Sangkuriang memilih mengakhiri hidupnya dengan menusukkan kujang yang juga digunakan Dayang Sumbi. Peristiwa ini mengingatkan kita pada peristiwa hara-kiri di Jepang. Upaya bunuh diri di Jepang adalah upaya untuk menyelamatkan prinsip dan harga diri serta keteguhan keyakinan yang dianut dan itu pula yang dilakukan oleh Sangkuriang pada teks drama Utuy.

 

Bandung, 21 Januari 2014