Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Heri Isnaini, S.S., M.Hum.

Artikel Umum

Modern Meisje: Feminisme Kartini

Dipublikasikan pada : 3 Agustus 2014. Kategori : .

Japara, 25 May, 1899.

I have longed to make the acquaintance of a “modern meisje” that proud, independent girl who has all my sympathy! She who, happy and self-reliant, lightly and alertly steps on her way through life, full of enthusiasm and warm feeling; working not only for her own well-being and happiness, but for the greater good of humanity as a whole.

 

Kutipan surat Kartini kepada Estelle “Stella” Zeehandelaar, sahabat karibnya dari Belanda, ditulis jauh sebelum “pergerakan perempuan” pada tahun 1960-an di Amerika, yang pada akhirnya memunculkan kritik sastra feminis. Dalam surat itu, terlihat jelas betapa Kartini merindukan sosok “perempuan modern” yang sangat “didambakannya”. Perempuan merdeka, mandiri, visioner, antusias, serta perempuan yang berkepribadian halus tergambar begitu jelas, sebagai sosok modern meisje yang dikhayalkan Kartini. Sosok itulah yang meneguhkan Kartini memperjuangkan kaumnya yang “tertindas” yang selalu menjadi objek yang abjek.

Berangkat dari pemikiran Kartini yang revolusioner tersebut, seolah memicu ingatan kita pada konsep kesetaraan gender yang sangat santer didengungkan pada “pergerakan perempuan” tahun 1960-an di Amerika. Dari beberapa segi yang penting, pergerakan ini bersifat “sastrawi”. Artinya, pergerakan ini menyadari signifikansi citra perempuan yang disebarluaskan oleh sastra dan memandang bahwa sangat penting untuk melawan hal tersebut dengan mempertanyakan otoritas dan koherensinya. Representasi perempuan dalam sastra dirasakan sebagai salah satu bentuk “sosialisasi” terpenting karena memberikan gambaran tentang “perempuan” yang tepat dan sah. Dalam perjalanannya, pergerakan ini melahirkan “kritik sastra feminis”. Perhatian kritis dari kritik sastra feminis ditujukan pada buku-buku karya penulis laki-laki yang mengonstruksi citra perempuan dengan tujuan melanggengkan ketidaksetaraan seksual mereka. Dalam tulisannya, Toril Moi membedakan istilah feminist, female, dan feminine. Istilah pertama adalah sebuah “posisi politis”, yang kedua “berhubungan dengan biologi”, dan istilah ketiga didefinisikan sebagai “seperangkat karateristik yang didefinisikan secara kultural”. Ketiga istilah inilah yang kemudian menjadi salah satu sarana pemikiran dan pergerakan kritik sastra feminis, yang menurut saya telah dimulai juga oleh Kartini.

Pemikiran-pemikiran Kartini untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, seperti hak untuk berpendidikan; hak untuk meperoleh kebebasan; hak untuk memilih jodoh; dan lebih jauh lagi adalah hak “berkedudukan sama” dalam struktur sosial masyarakat, adalah pemikiran feminis yang lahir akibat tekanan yang dialami Kartini. Secara sadar Kartini melihat hal tersebut menjadi sebuah “penindasan” dan “penyiksaan” terhadap hak-hak perempuan. Melalui surat-surat yang dikirimkan pada Stella, sesungguhnya Kartini sedang berusaha mencoba mengadakan perlawanan terhadap kondisi yang menyudutkan kaum perempuan pada strata sosial masyarakat Jawa. Perlawanan yang dilakukan Kartini adalah dengan “tulisan”. Tulisan yang khas “perlawanan perempuan”. Kartini “sengaja” menggunakan bahasa Belanda sebagai bentuk “perlawanan” atas pengekangan dirinya. Melalui bahasa (bahasa Belanda) dalam suratnya, Kartini ingin memperlihatkan bahwa perempuan dapat melawan dengan “senjata” laki-laki. Bahasa. Seperti “senjata makan tuan”, bahasa dalam surat-surat Kartini berisi pemikiran-pemikiran cerdasnya untuk kemajuan perempuan, khususnya di bidang pendidikan. Menurut saya, khayalan Kartini tentang modern meisje telah menjadikannya sosok feminis yang sejati. Setelah penjelasan singkat ini, saya akan mencoba membandingkan pemikiran Kartini dengan pergerakan kritik sastra feminis yang dimulai pada tahun 1970-an.

Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial pd jaman itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin perempuan memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air). Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada Stella, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia ungkapkan juga tentang pandangan: dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. “…Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu…” Kartini juga mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah dan tersedia untuk dimadu pula. Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju.

Dalam kritik feminis 1970-an, upaya utama ditujukan pada pendedahan mekanisme patriarki atau cara berpikir kultural pada diri laki-laki dan perempuan yang melanggengkan ketidaksetaraan seksual. Feminisme menyatukan berbagai gagasan yang memiliki persamaan dalam tiga pandangan utamanya: pertama, gender adalah konstruksi sosial yang lebih menindas perempuan daripada laki-laki; kedua, konsrtruksi ini dibentuk oleh patriarki; ketiga, pengetahuan eksperensial perempuan adalah dasar bagi pembentukan masyarakat nonseksis di masa depan. Kemudian di tahun 1980-an, ada perubahan dalam feminisme. Pertama, kritik feminis menjadi jauh lebih ekletik, artinya mulai mengambil bahan daritemuan dan pendekatan dalam jenis-jenis kritik lainnya (marxisme, strukturalisme, linguistik, dsb). Kedua, fokusnya dialihkan dari menyerang versi laki-laki atas dunia menjadi penyelidikan ciri-ciri dunia dan sudut pandang perempuan serta merekonstruksi catatan pengalaman perempuan yang hilang atau ditekan. Ketiga, perhatian dialihkan pada kebutuhan untuk mengonstruksi kanon tulisan perempuan yang baru dengan cara menulis ulang sejarah novel dan puisi sedimikian rupa sehingga penulis perempuan diutamakan. Elaine Showalter, misalnya, mendeskripsikan perubahan di akhir 1970-an sebagai pergeseran perhatian dari “androteks” (tulisan laki-laki) ke “ginoteks” (tulisan perempuan). Studi tentang “ginoteks” dan tema-tema tentang identifikasi perempuan adalah “ginokritik”.

Pada 1980-an, fokus utama feminis adalah bahasa. Tantangannya adalah membentuk ulang hubungan yang secara seksual ekspresif dan kuat antarbahasa, bentuk literer, dan jiwa laki-laki dan peempuan dengan mempertanyakan hubungan antara identitas gender dan bahasa. Para kritikus Prancis mengadopsi istilah ecriture feminine (tulisan feminin) untuk menjelaskan gaya feminine (yang tersedia baik bagi laki-laki maupun perempuan). Mereka menemukan “gaya” ini dalam ketidakhadiran, keterputusasaan, dan jouissance dalam tulisan modernis. Cixous, secara khusus berpendapt bahwa ecriture feminine dapat ditemukan dalam metafora-metafora mengenai perbedaan genital dan libidinal perempuan.

Itulah pemikiran yang berkembang berkaitan dengan “perempuan“. Dalam kaitannya dengan bahasa. Ada pembedaan bahasa yang merunut pada masalah gender. Pembedaan tersebut sepertinya lebih membela “kekuasaan“ laki-laki dan memarjinalkan kaum perempuan. Perlu penelitian lebih dalam mengenai hal ini, tetapi sebagai contoh kecil, adanya pembedaan gender dapat dilihat pada kosa kata di beberapa bahasa di dunia, seperti pada bahasa Inggris, Arab, Perancis, Jerman. Pembedaan seperti ini mau tidak mau akan lebih melanggengkan “kekuasaan“ laki-laki terhadap perempuan. Penggunaan kata ganti he dalam bahasa Inggris sebagai kata ganti yang lebih banyak digunakan daripada bentuk she. Demikian pula pada bahasa Arab, bentuk kata huwa lebih dominan digunakan daripada bentuk kata hiya. (dominan dalam arti tidak hanya untuk menyatakan kata ganti orang, melainkan juga untuk kata ganti benda yang lain).

Dengan kata lain, ada dilematis tersendiri bagi kaum feminis (laki-laki atau perempuan) yang mewakili kaum “liyan“ tersebut untuk mengekspresikan suara-suara mereka masuk ke dalam suara umum dalam masyarakat dengan perantara tulisan, seperti makan buah simalakama, pada saat tulisan mereka diterima oleh masyarakat, pada saat itu pula secara tersirat mereka mengakui pembedaan yang menyudutkan mereka. Pada akhirnya, secara tekstual perlawanan lewat tulisan seperti menegakkan benang basah, sesuatu yang sulit dilakukan, tetapi tidak menutup kemungkinan hal tersebut dapat terwujud dengan syarat “benang“ tersebut telah kering. Artinya, harus ada upaya alternatif yang dapat menjadi alat untuk “mengeringkan benang tersebut“. Wahana “perlawanan“ kaum perempuan terhadap dominasi kegiatan “menulis“ laki-laki, sebetulnya telah lama digaungkan pada masa lampau. Perlawanan itu di antaranya dengan cara membuat tenunan atau tekstil. Menenun merupakan “perlawanan“ untuk dominasi “menulis“. Hal tersebut dapat dilihat, ketika laki-laki membuat tulisan (baik di daun, batu, lontar, dan sebagainya) kaum perempuan menenun “kain“ yang pada akhirnya dipakai pula sebagai “baju“ oleh laki-laki. Balasan yang setimpal sebetulnya.

 

Bandung, 24 Januari 2014