Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Heri Isnaini, S.S., M.Hum.

Artikel Umum

Tulisan Hasil Menulis? Benarkah?

Dipublikasikan pada : 3 Agustus 2014. Kategori : .

 

Menulis adalah kegiatan yang lazim kita lakukan tanpa menganggap bahwa didalamnya berjalan sebuah proses yang berliku dan tidak sederhana. Ada mekanisme rumit yang melatari kegiatan kita dalam menulis. Ketika kita menulis (dalam bentuk apapun) maka hasil dari proses tersebut adalah sesuatu yang diantaranya disebut “tulisan”. Pembahasan tulisan ini pun akan menghasilkan “tulisan” karena dilakukan dengan proses “menulis”. Rujukan KBBI mungkin akan sedikit membuka celah definisi dari kata “menulis”. Setidaknya ada 4 pengertian yang dirujuk KBBI untuk kata “menulis”, diantaraanya

  1. membuat huruf (angka dsb) dengan pena (pensil, kapur, dsb);
  2. melahirkan pikiran atau perasaan (seperti: mengarang, membuat surat) dengan tulisan; mengarang cerita; membuat surat; berkirim surat;
  3. menggambar; melukis;
  4. membatik (kain).

Berdasarkan definisi tersebut, kita dapat memahami bahwa “menulis” adalah proses yang sangat luas baik secara harfiah atau proses historisnya. Pada akhirnya, kita akan dengan mudah mengatakan bahwa hasil dari “menulis” adalah “tulisan”. Sejalan dengan definisi KBBI di atas, makna “tulisan” adalah sebagai berikut:

  1. hasil menulis; barang yg ditulis; cara menulis;
  2. karangan (dalam majalah, surat kabar, dsb atau yg berupa cerita, dongeng, dsb): buku-buku (karya-karya tulis dsb);
  3. gambaran; lukisan;
  4. batik (yang dibatik atau dicetak pada kain);
  5. suratan (nasib, takdir).

Dari ajuan pengertian yang dikemukakan di atas, ada sedikit anggapan yang sangat lumrah diajukan adalah “menulis” merupakan proses yang tidak hanya mencakup goresan pada media oleh inskriptornya, tetapi juga mencakup proses “mengalihkan” ide, gagasan, pikiran, yang semula “ada” pada benak seseorang dikodifikasikan pada tulisan yang tergores di media lain, seperti, loh, batu, kulit, daun, kertas, dan media-media yang lainnya.

Ada beberapa permasalahan yang “mengganggu” dan sekaligus menjadi latar “ketergangguan” pada tulisan ini, di antaranya adalah:

1)      Apakah “tulisan” harus merupakan hasil dari “menulis”? Apakah “tulisan” dalam arti yang sangat luas bisa juga merupakan hasil dari “berujar” secara lisan?

2)      Apakah tulisan dapat secara “utuh” menggantikan sosok “kekuatan” yang ada pada teks lisan? Misalnya, apakah tulisan seorang raja (dalam bentuk prasasti) dapat menggantikan secara “utuh” kekuatan dan kekuasaan raja tersebut? Ataukah ada bagian “kekuatan” yang hilang dari kekuasaan raja tersebut? ataukah tulisan hanya dapat dipandang sebagai kegiatan yang melanggengkan gagasan, ujaran, dan pengalaman saja?

3)      Apakah tulisan dapat secara otonom mengungkapkan perasaan seseorang tanpa dilibatkan dengan proses lisan? Ataukah ada “keterlibatan” antara keduanya? Ataukah tulisan merupakan representasi lain dari lisan?

4)      Apakah wacana feminisme “terhalang” dengan adanya tulisan? Artinya, apakah secara mutlak bahwa tulisan selalu mengandung unsur patriarkal?

5)      Mengapa media tekstual dan teknologi yang ditemukan manusia selalu hidup secara berdampingan? Tidak serta merta tergantikan? Misalnya, penemuan “tulisan” tidak serta merta mengganti lisan, dan penemuan mesin cetak tidak serta merta menghilangkan tulisan, adakalanya peristiwa-peristiwa yang melatari “penemuan” keduanya hadir secara bersamaan?

Secara umum dapat dikatakan bahwa teks tertulis mungkin dapat dianggap sebagai bentuk lain dari teks yang tertuang dalam teks lisan. Walaupun pada akhirnya anggapan ini akan menimbulkan permasalahan-permasalahan baru yang tidak bisa dihindari dari dikotomi ini, karena ada perbedaan yang sangat mendasar antara keduanya, misalnya teks tertulis tidak bisa serta merta menghadirkan “situasi” yang tergambar pada teks lisan seperti terlihat pada konteks, proses, dan fungsinya.

Dikotomi tersebut secara tersirat mengantarkan kita pada sebuah jawaban sederhana yang mengacu pada beberapa permasalahan yang dikemukakan di atas. Secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, “tulisan” dalam pengertian yang sangat luas (huruf, angka, gambar, corak, coretan, cetak, dsb) merupakan hasil dari “menulis” dengan syarat harus ada media dan inskriptor pada prosesnya (baik dengan menggores, menatah, mencungkil, menodai dengan tinta, mencetak, dsb). Begitu juga dengan “tulisan” dalam arti luas dapat pula merupakan hasil dari “berujar” karena memang ada syarat dalam proses tersebut. Ada media dan inskriptor “tak kasatmata” yang bekerja ketika seseorang berbicara sehingga dapat didengar oleh orang lain. Media tersebut dapat berupa “udara” (karena dalam ruang hampa udara orang tidak dapat menggores suara/menghasilkan suara) dan inskriptornya berupa suara yang dihasilkan oleh alat artikulasi. Suara tersebut (menggores, menatah, menodai, atau mencetak, barangkali) pada media udara pada ruang yang tak hampa. Sehingga muncullah “tulisan” pada udara tersebut, yang tentu saja sifat dan jenisnya sangat berbeda dengan “tulisan” yang “kasatmata”.

Kedua, ketika suara kekuasaan seorang raja dilanggengkan melalui tulisan, misalnya dalam prasasti. Sebetulnya ada sesuatu yang hilang dalam proses tersebut. Di satu sisi, gagasan seorang raja tersebut dapat terpatri lama dan langgeng, tetapi di sisi lain ada “kekuatan” yang hilang pada proses penggantian tersebut. Salah satu hal yang pasti akan hilang adalah konteks penuturan. Konteks penuturan adalah pembicaraan mengenai sebuah peristiwa komunikasi secara khusus yang ditandai dengan adanya interaksi di antara unsur-unsur pendukungnya secara khusus pula. Artinya ada hubungan antara penutur, petutur, kesempatan bertutur, tujuan bertutur, dan hubunganya dengan lingkungan serta masyarakat pendukungnya. Menurut Malinowski, kata-kata dalam sebuah percakapan hanya dapat dipahami kalau dikaitkan dengan konteks. Pemahaman konteks situasi saja belum cukup untuk memahami kata-kata yang digunakan dalam percakapan, tetapi juga harus dibarengi dengan pemahaman konteks budaya. Konteks situasi adalah lingkungan atau tempat peristiwa penuturan berlangsung. Konteks situasi atau tempat berlangsungnya teks, menurut Halliday mempunyai tiga unsur yaitu medan yang menunjuk pada hal yang sedang dilakukan oleh pelibat yang di dalamnya menggunakan bahasa sebagai unsur pokok. Pelibat menunjuk pada orang-orang yang terlibat, yaitu bagaimana sifat, kedudukan dan peran mereka. Sedangkan sarana merujuk pada bagian yang diperankan bahasa. Konteks budaya adalah lingkungan budaya suatu daerah termasuk “peristiwa” dan norma yang melatari penuturan.

Ketiga, tidak dapat dipungkiri bahwa ada keterlibatan antara teks tertulis dengan teks lisan. Apalagi kalau kita mengaitkannya dengan proses pementasan seni atau drama. Artinya, teks tertulis tidak bersifat otonom karena pada akhirnya teks yang tertulis pun harus dilisankan juga. Ada baiknya, kita bandingkan perbedaan antara teks lisan dengan teks tertulis tesebut. Pada teks tertulis ada perbedaan antara moment penciptaan dan moment pembacaan (pertunjukkan). Sedangkan teks lisan kedua moment itu menjadi satu. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa keterlibatan keduanya mutlak diperlukan terutama dalam pementasan seni atau drama.

Keempat, ada pembedaan secara bahasa yang merunut pada masalah gender. Pembedaan tersebut sepertinya lebih membela kekuasaan laki-laki dan memarjinalkan kaum perempuan. Perlu penelitian lebih dalam mengenai hal ini, tetapi sebagai contoh kecil, adanya pembedaan gender dapat dilihat pada kosa kata di beberapa bahasa di dunia, seperti pada bahasa Inggris, Arab, Perancis, Jerman. Pembedaan seperti ini mau tidak mau akan lebih melanggengkan “kekuasaan“ laki-laki terhadap perempuan. Penggunaan kata ganti he dalam bahasa Inggris sebagai kata ganti yang lebih banyak digunakan daripada bentuk she. Demikian pula pada bahasa Arab, bentuk kata huwa lebih dominan digunakan daripada bentuk kata hiya. (dominan dalam arti, tidak hanya untuk menyatakan kata ganti orang, melainkan juga untuk kata ganti benda yang lain). Dengan kata lain, ada dilematis tersendiri bagi kaum feminis (laki-laki atau perempuan) yang mewakili kaum “liyan“ tersebut untuk mengekspresikan suara-suara mereka masuk ke dalam suara umum dalam masyarakat dengan perantara tulisan, seperti makan buah simalakama, pada saat tulisan mereka diterima oleh masyarakat, pada saat itu pula secara tersirat mereka mengakui pembedaan yang menyudutkan mereka. Pada akhirnya, secara tekstual perlawanan lewat tulisan seperti menegakkan benang basah, sesuatu yang sulit dilakukan, tetapi tidak menutup kemungkinan hal tersebut dapat terwujud dengan syarat “benang“ tersebut telah kering. Artinya, harus ada upaya alternatif yang dapat menjadi alat untuk “mengeringkan benang tersebut“. Wahana “perlawanan“ kaum perempuan terhadap dominasi kegiatan “menulis“ laki-laki, sebetulnya telah lama digaunkan pada masa lampau. Perlawanan itu di antaranya dengan cara membuat tenunan atau tekstil. Menenun merupakan “perlawanan“ untuk dominasi “menulis“. Hal tersebut dapat dilihat, ketika laki-laki membuat tulisan (baik di daun, batu, lontar, dan sebagainya) kaum perempuan menenun “kain“ yang pada akhirnya dipakai pula sebagai “baju“ oleh laki-laki. Balasan yang setimpal sebetulnya.

Kelima, ketika ditemukan teknologi yang sangat maju (seperti televisi, komputer, dan internet), orang mulai khawatir akan hilangnya animo masyarakat dengan buku bacaan. Kekhawairan tersebut diperkuat dengan banyaknya acara televisi dan informasi di internet yang seakan-akan menggantikan peran buku dalam memberikan informasi dan hiburan. Akan tetapi, kekhawatiran tersebut tidak sepenuhnya terbukti, karena dengan majunya teknologi justru membuat kualitas buku (baik isi maupun kemasan) terbawa menjadi lebih baik. Tidak jarang para penerbit lebih mengutamakan bagusnya kemasan yang dielaborasi dengan canggihnya teknologi yang tentu saja memudahkan para penerbit membuat iklan yang lebih menarik. Artinya, penemuan-penemuan yang lebih maju tersebut tidak akan serta merta mengganti teknologi yang sudah ada. Contoh yang lain, penemuan blender tidak serta merta menghilangkan peran cobek untuk membuat sambal. Begitupun, penemuan minyak tanah dan gas, tidak serta mertamenggantikan tungku atau arang. Penemuan-penemuan tersebut hidup berdampingan dan mempunyai fungsi masing-masing.

Penjelasan singkat di atas, secara spesifik belum menjawab semua permasalahan yang diajukan di awal tulisan. Akan tetapi, penjelasan singkat ini dapat menjadi titik awal dan tolakan untuk penjelasan yang lebih mendalam pada tulisan di masa yang akan datang. Mudah-mudahan.

 

Bandung, 22 Januari 2014