Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Heri Isnaini, S.S., M.Hum.

Artikel Umum

Sajak Aku dan Engkau (Manuskrip Puisi Heri Isnaini 2015)

Dipublikasikan pada : 15 April 2016. Kategori : .

Sajak Aku dan Engkau

Manuskrip Puisi

Heri Isnaini

heriisnaini1985@gmail.com

Kabut

kabut turun ditemani gerimis senja
rintiknya lekat pada kenangan
menetesi tiap pori kenyataan

kabut jatuh diwarnai gulita malam
pekatnya pupur pada harapan
menelusupi tiap rongga kehidupan

2015

Gerimis

gerimis kembali menemani kita
berdua:
menggambarkan keakraban

sudah sekian kali
dia mengikuti kita
berdua:

pun sore ini
gerimis begitu ramai
mengikuti kita
berdua:

deru sepeda motor: kita berpacu dengan angin
jalanan becek dan berbatu
kita: berdua

2015

Perjalanan

aku hampiri salik tua:
-asyik berdendang sajak-sajak Khayam-
menari di atas syair-syair Rumi
mabuk: meracaui nyanyi burung-burung
merindu cinta Adawiyah

aku jalani suluk kokoh:
-asyik mendaki maqamat khalik-
berlari mengejari syariat-syariat
kasih melayari tarikat
mencinta tujuan hakikat

2015

Ilusi

mata adalah ilusi
tanah yang sepi bukan berarti kosong
sepi tidak sama dengan kosong
kosong bukan berarti sepi

mata adalah ilusi
-angin tetap bertiup
mawar tetap mewangi
ruh tetap terjaga-
tanpa terlihat pun

mata adalah ilusi
terlihat belum tentu ada
tidak terlihat bukan tidak ada

mata adalah ilusi
ilusi adalah musuh!

2015

Sajak Aku dan Engkau

aku dendangkan larik-larik Rubayat
berangan Simurgh menjelma burung-burung
bait-baitnya menjalin kelopak-kelopak Matsnawi mekar seperti seroja

aku gemakan syair-syair Jinnar
berharap manunggal menjadi aku dan engkau
kata-katanya memilin sari-sari isytar berkembang seperti mawar

2015

Pendosa

aku berdosa bukan pendosa
berdosa pada tangan dan kakiku
berdosa pada lidah dan telingaku
berdosa pada mata dan hatiku

tapi aku bukan pendosa
tuhan tahu itu

2015

Kembalilah

jangan diteruskan kehilanganmu
aku akan selalu bersamamu
jangan dilanjutkan keraguanmu
aku akan selalu dihatimu

tutuplah masa lalumu
kembalilah…
semua akan baik-baik saja

Dia lebih akbar!

2015

Cinta Itu Ada

cinta itu ada: berbaring
saling membelakangi
dunia hanya erangan nafas
merayapi tubuh demi tubuh
di laluinya

Sendiri!

2015

Danyang

Kabut yang menutupi matamu perlahan menguak:
aroma kemboja, semilir kemenyan, kopi pahit
dan dua buah cerutu
disuguhkan di bawah beringin besar

2015

Tujuh Belas

tujuh belas pemikat yang memesona
dua empat empat tiga empat
sama dengan tujuh belas
tujuh belas darwis yang bersahabat dengan doa-doa
membawa harapan pada tujuh belas peperangan;
tujuh belas pahlawan dengan tujuh belas leluka

seorang tua membawa bahtera pada banjir ke tujuh belas
mendarat di Ararat bersama sepasangan yang mesra
ada juga yang terapung-apung selama tujuh belas hari
mengharap tertebusnya dosa meninggalkan tanah air

2015

Kepadamu Kekasihku

tadi malam kembali aku mengetuk pintumu
berharap engkau tidak bosan mendengar suaranya

kata-kata yang mengalir adalah keinginanku
tidak terasa utangku kepadamu sudah menumpuk

engkau sangat akbar, kekasihku
aku manusia

2015

Malam

ini malam, pekat
udara bertuba
suasana beringsut mencekam

buah apel masih menjadi ingatan
dosa semula
bergegas mencari pegangan

ini malam, berkabut
doa dipanjatkan
untuk menghapus kenangan

2015

Prangko

ada wajahmu yang sendu
menatap lesu padaku
di luar, angin berhembus menerbangkan surat tua
amplop lusuh tergenggam jemari

prangko itu tetap setia menempel
walaupun warna amplop berubah kuning

2015

Dialog Balon Gas
-kepada Hegar Krisna-

balon yang engkau pegang telah menjadi satu warna
engkau yang membuatnya abadi
gas yang ada di dalamnya berubah warna-warni
:semangat dan harapan

balon itu tidak hanya lima
engkau yang membuatnya beribu
dalam warna dan keindahan
engkau pegang erat di luar pintu itu
anak-anak tidak lagi terkejut dengan letusan balon hijau

engkau telah sembunyikannya di bawah bantal
di antara tetesan air mata

2015

Memori

matahari merambat pelan
di pertengahan Juni
udara begitu sejuk dan dingin
ada kelebat kenangan: mengganggu
mengusiki harapan terus menerus

matahari tenggelam di balik cakrawala
mengamini hari sudah petang
di antara kegelisahan rambut yang memutih
lelaki itu duduk sendiri
menatapi bangku kosong
tempat dia kuliah dulu

sendiri

Cikutra, 16 Juni 2015

Sajak Juni

aku tandai angka-angka dalam kalender
menantikan hujan yang tak kunjung datang
kupandang semua angka
prematur adanya

2008

Senyumanmu
kepada Ia

tidak ada yang lebih indah dari senyumanmu
ketakjubanku telah lewati makna kata:
untuk mengungkapnya

2008

Jenuh

kata telah menelanjangiku bulat-bulat
mengirimku pada songsongan matahari
panas:
tidak mencapai puncak kebahagiaan itu
menuruni tebing-tebing keniscayaan pada tuturan gerimis
malam:

kata memompa seluruh aliran darah
melalui pipa-pipa kejenuhan
mengalirkan racun dari makna-makna tersembunyi

kata menghunuskan pedang kebosanan
menyayat-nyayat hati yang kelu
membuangnya pada air garam: pekat
hingga aku meringis dalam luka

dalam

2010

Pertemuan Kita

pertemuan kita mengundang gerimis
bersama hembus angin dan wangi tanah
di pinggir kolam bersama kicau burung
kita berdua saja

ada keinginan muncul untuk bersama
kupandang angan dan kenangan kita
begitu deras

tahtakan keinginan muncul untuk bersama
Kita bertemu di malam ini
dengan semua canda dan tawa
bersama kata yang tidak tertafsirkan

2015

Doa

kata menggantung di sawangan
terbang beribu tahun
mengharap getarkan arsy

kata menembusi mega dan awan
jalan tujuh lapis melapis
dalam cahaya dan udara

kata melebur menjadi isyarat
nyata: sesuai janjimu

2015

Menunggumu

aku hanya menunggumu:
mengeja harapan dan angan
mengucapkan asma dengan terbata

aku hanya menunggumu:
menyanyikan kenangan di pojok hati
menyampaikan risalah angin dan ombak

aku hanya menunggumu: saja

2008

Manusia

topeng
substansial
prototipe
fenotipe
aksidental
manusia!

Tamansari, 2009
Aku mencintaimu

Titik!

2007

Keheningan

malam ini
kita melakukannya lagi
untukmu, Alifya!

2010

Pernikahan tuhan

dalam sujudmu!

2006

Kita

ada selaksa pada hatiku
mengapur dan mengendap
menjadi bebatu yang kristal

ada ribuan tanya pada matamu
melihat dan menatap
menjadi petanda yang nyata

ada diri pada matamu
ada matamu pada hatiku

2015

Pahit

Jejaring laba yang menutupi wajahmu membawa kenangan masa mudamu;
pahit. Kehidupan adalah sendiri menyendiri berubah warna bunglon;
menjadi iri yang tinggi. Penjelajahan pada matamu serupa isapan jempol anak-anak yang menyangka tidak tahu apa-apa. Ah, kamu salah! Itulah kenangan pahit yang menderaku berkali-kali. Begitulah

2010

Satu Agustus

bulan berganti tepat pukul 12
ada keheningan menyambutnya
aku sendiri menatapi kalender yang berganti
ada juga keinginan untuk kembali

bulan ini awal kemenangan
berangsur akan menjadi kenangan
mungkin hanya sejarah yang ditinggalkan
aku sendiri!

2015

Satu Juli

percakapan berhenti di angka tiga puluh
ada yang tertinggal padanya
secuil kenangan dan setetes harapan
bercampur: menjadi satu

percakapan kita
menunduk di antara cahaya bintang
kelopak bunga menyebar wangi

sejengkal tanya menusuk hidungku

2015

Anteh

aku melihat wajahmu tengadah pada cahaya purnama
menenun satu demi satu riwayat hidup
seekor kucing berwarna hitam
mengaduh di kaki

aku melihat wajahmu bersama cahaya bebintang
terpantul di sanubari
memercik pada air muka
sendiri

2015

Teratai

ceruk yang luas tergambar pada kenangan itu
terukir juga dalam hatimu
terisi dengan kelopak-kelopak teratai
yang mekar malam hari

2015

Aku Menunggu Bunga

aku menunggu bunga
di taman yang kering dan hening
pagar bambu melingkar hati
angin berhembus menelusupi rusuk
ada yang terhempas
di antara rerumpun pohon

aku menunggu bunga
di pelataran sepi dan tandus
hari sudah senja
matahari akan bergegas pergi
menunggu jemputan
dengan sabar!

2015

Sebuah Kata

lagi, aku memburumu
melewati ribuan waktu
yang mendesak-desak di dalam dada

lagi, aku menangkapmu
menghantari jutaan tempat
yang mendorong-dorong di dalam hati

sebuah kata
lagi!

2015

Sesal

hari berlalu pada lingkaran kalender
anak-anak sudah ditinggalkan
matahari melewati kepala
senja menanti dengan sabar
tidak ada yang dibawa:
bekal belumlah cukup

aku menatap masa lalu dengan kerugian
betapa banyak utangku kepadamu
engkau begitu memesona

aku akan menemuimu
dengan cinta yang sederhana

2015

Menunggu

hidup adalah menunggu
menunggu yang ditunggu:
menunggu ajal
menunggu sakit
menunggu susah
menunggu tua
menunggu kaya
menunggu jemputan
menunggu engkau

hidup adalah menunggu
seperti juga engkau
tidak bosan menungguku setiap malam

2015

Purnama

pancar cahaya memiliki
menghimpun sejengkal cerita purba
adam dan hawa

hembus angin menyapa
mengukir setatah kasih suci
kau dan aku

2015

Tandatanya

peluh siang ini membasahi kaki dan tanganku
: tapi tidak wajahku
angin mengirimnya ke angkasa
membual menembus nirwanaloka

semua imaji lunturkan harapan
ketamakan
ketiadaan
keabsurdan

bayang-bayang hadir sepanjang jalan
mengalirkan nada dan doa
: bersamamu

Jalan Sumatera, 2008

Yang

air matamu
yang membuat basah seluruh hatiku
yang tidak juga dengan hatimu adalah kesempatan itu
yang terbuka untuk semua waktu
yang diberikan kehidupan
yang aku terimakan oleh sebuah pengakuan
yang terpaku pada kehangatan mentari dan dinginnya malam
yang hari semua itu aku jalankan demi keabadian
yang aku berikan oleh sebuah nama
yang masih terkenang pada kemesraan bibirmu

Yang

2015

Pintu

pintu itu sedikit terbuka
aku ragu mengetuknya
:engkau sudah ada di sana
menungguku

di luar, gerimis menyapa
burung beterbangan disentuh tetesannya
lagi, aku melihat pintu itu sedikit terbuka
masih dengan cat mengelupas dan gagang rusak

:engkau selalu di sana
menungguku

2015

Aku dan Mu

aku belum mengenalmu:
fajar sudah berlalu
matahari terjaga di ufuk timur
berjalan di atas ubun-ubun
terbakar cahaya kemerahan
tenggelam pada kegelapan

aku lupa padamu:
terpana oleh ciptamu
bergurau dengan isi
terlena dengan bungkus
menelusupi tiap pori

aku ingin mengenalmu
lagi!

2015